18 Jan 2014

Faktor Penyebab Tidak Terkabulnya Doa

 




(SUMBER: Mi’ah Qishshah Wa Qishshah Fii Aniis ash-Shaalihiin Wa Samiir al-Muttaqiin karya Muhammad Amin al-Jundi, Juz.II, hal.94) 

Dikisahkan bahwa suatu hari, Ibrahim bin Ad-ham RAH melintas di pasar Bashrah, lalu orang-orang berkumpul mengerumuninya seraya berkata, “Wahai Abu Ishaq, apa sebab kami selalu berdoa namun tidak pernah dikabulkan.?”

Ia menjawab, “Karena hati kalian telah mati oleh 10 hal:
Pertama, kalian mengenal Allah tetapi tidak menunaikan hak-Nya.
Ke-dua, kalian mengaku cinta Rasulullah SAW tetapi meninggalkan sunnahnya.
Ke-tiga, kalian membaca al-Qur’an tetapi tidak mengamalkannya.
Ke-empat, kalian memakan nikmat-nikmat Allah SWT tetapi tidak pernah pandai mensyukurinya.
Ke-lima, kalian mengatakan bahwa syaithan itu adalah musuh kalian tetapi tidak pernah berani menentangnya.
Ke-enam, kalian katakan bahwa surga itu adalah haq (benar adanya) tetapi tidak pernah beramal untuk menggapainya.
Ke-tujuh, kalian katakan bahwa neraka itu adalah haq (benar adanya) tetapi tidak mau lari darinya.
Ke-delapan, kalian katakan bahwa kematian itu adalah haq (benar adanya) tetapi tidak pernah menyiapkan diri untuknya.
Ke-sembilan, kalian bangun dari tidur lantas sibuk memperbincangkan aib orang lain tetapi lupa dengan aib sendiri.
Ke-sepuluh, kalian kubur orang-orang yang meninggal dunia di kalangan kalian tetapi tidak pernah mengambil pelajaran dari mereka.”

Kecerdikan Abu Ja’far Al-Manshur

 
(SUMBER: Nihâyah azh-Zhâlimîn, karya Ibrahim bin 'Abdullah al-Hâzimiy, Juz.I, h.88-90 sebagai yang dinukilnya dari buku Tsamarât al-Awrâq karya al-Hamawiy, h.142)

Suatu ketika Abu Ja'far, 'Abdullah bin Manshur, seorang khalifah, sedang duduk-duduk di salah satu kubah kota al-Manshur di 'Iraq. Tiba-tiba dia melihat seorang laki-laki yang sedang sedih dan bolak-balik ke sana- kemari di sepanjang jalan. Lalu dia mengirimkan utusan untuk menemuinya dan menanyakan kondisinya.

Maka orang tersebut menceritakan bahwa pernah suatu hari dia pergi berbisnis dan mendapatkan keuntungan yang besar sekali. Setelah itu, dia kembali membawa hasil keuntungan tersebut kepada sang isteri dan menyerahkan semua uang dinar kepadanya. Namun kemudian, kisahya, isterinya tersebut mengatakan kepadanya bahwa semua uang tersebut telah dicuri orang dari rumah, padahal setelah dia meneliti, tidak ada satupun bekas lobang atau sesuatu yang terbongkar di rumahnya.

Lantas berkatalah al-Manshur kepadanya, "Sejak kapan kamu menikah dengannya?"
"Setahun yang lalu." Jawabnya
"Saat kamu nikahi, dia masih perawan atau sudah janda?", tanyanya lagi
"Sudah janda." Jawabnya
"Masih muda atau sudah berumur?." Tanya al-Manshur lagi
"Masih muda." Jawabnya pula

Tak berapa lama kemudian, al-Manshur mengambil sebuah botol berisi parfum yang demikian semerbak aromanya seraya berkata kepada orang tersebut, "Pakailah ini, pasti akan hilang semua kegelisahanmu."
Lalu orang itu mengambilnya dan membawanya pulang.

Setelah orang tersebut berlalu, al-Manshur berkata kepada para pengawal pilihannya, "Duduklah kalian di dekat pintu-pintu masuk kota ini. Siapa saja yang melintasi kalian dan tercium dari tubuhnya semerbak aroma parfum tadi, maka bawalah dia kemari.!!"

Sementara orang tadi sudah sampai di rumahnya dan segera menyerahkan parfum tersebut kepada sang isteri sembari berkata, "Ini ada parfum bagus, hadiah dari Amirul Mukminin!."

Tatkala menciumnya, sang isteri ini demikian takjub dan terpikat dengannya, lalu sertamerta dia membawa parfum tersebut kepada seorang laki-laki, kekasih gelap yang dia cintai. Kepada orang inilah, dia menyerahkan semua uang dinar yang hilang itu. si perempuan ini berkata kepadanya, "Pakailah parfum yang bagus ini!."

Tanpa rasa curiga dan pikir panjang lagi, kekasih gelapnya ini langsung memakainya, dan pergi melintasi sebagian pintu kota. Akhirnya, dari tubuhnya tersebut terciumlah semerbak aroma parfum sang khalifah itu. Karenanya, diapun kemudian diciduk oleh para pengawal istana dan dibawa menghadap al-Manshur.

Setibanya di istana, al-Manshur bertanya kepadanya,
"Dari mana kamu dapatkan parfum ini?." Ternyata orang ini tidak dapat bersikap tenang dan terbata-bata di dalam menjawabnya. Melihat gelagat seperti ini, maka al-Manshur langsung menyerahkannya kepada polisi sembari memberikan titah,
"Jika dia mau menghadirkan sekian dan sekian dinar yang dicurinya, maka ambillah darinya. Bila dia tidak mau, maka cambuklah dia seribu kali cambukan!!!."

Tak lama kemudian, pakaiannya dilucuti untuk dicambuk sembari diancam, hingga akhirnya dia mengaku dan berjanji akan mengembalikan uang dinar yang dicurinya itu. Kemudian dia menghadirkan uang tersebut seperti sediakala, tidak kurang sepeserpun.

Setelah itu, al-Manshur diberitahu perihal tersebut, lantas si empunya uang dinar tersebut dipanggil lagi untuk menghadap. Ketika dia sudah datang, al-Manshur berkata kepadanya,
"Bagaimana pendapatmu, bila aku berhasil mengembalikan semua uangmu yang hilang, apakah kamu setuju aku yang akan menjatuhkan vonis terhadap isterimu?."

"Baiklah, wahai Amirul Mukminin." Katanya
"Ini semua uang dinarmu tersebut dan aku juga telah menceraikan isterimu itu darimu.!" Kata Amirul Mukminin, al-Manshur.
Setelah itu, sang khalifah yang cerdik ini mengisahkan kepada orang tersebut kronologis ceritanya.

Mewaspadai Langkah Syaitan

Disampaiakan Oleh  
Ahada Ramadhana
Teknik Kimia/ FTI-UII/ 2010
 

Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala (Q.S. Fâthir [35]: 6).

Kita tentu telah sama-sama mengetahui makhluk Allâh yang terkenal karena pembangkangannya saat diperintah untuk sujud kepada Nabi Adam a.s. dan berkomitmen untuk senantiasa mengganggu serta menjerumuskan anak cucu Adam kepada kesesatan yang mana muaranya adalah berujung pada al-Nâr. Mereka itu adalah setan yang merupakan keturunan dari iblis.
Setan merupakan golongan yang senantiasa menggoda manusia menjauh dari jalan Allâh. Mereka itu yang selalu senang ketika manusia taklid (patuh) pada jalan mereka yang sesat. Mereka punya seribu cara menggaet manusia untuk dijerumuskan dalam dosa. Jika tidak mengajak bicara dusta, maka mereka akan mengajak berkata kotor. Jika tidak membuat malas, mereka coba melalaikan. Jika tak mengarahkan ber-su’uzhan (berburuk sangka) maka mereka coba menciptakan hasad (dengki) di dalam hati kita. Singkatnya, segala upaya dan cara akan digunakan demi merekrut massa sebanyak-banyaknya dari golongan kita (manusia) untuk menjadi teman mereka di neraka kelak.
Kata setan berasal dari kata syaithana artinya menjauh. Dinamai setan karena jauhnya dia dari kebenaran. (Shabuni, 1977, hal. 17). Setan merupakan keturunan (anak cucu) iblis, yaitu yang pertama kali membangkang ketika diperintah sujud kepada Nabi Adam a.s. Sementara itu Yunahar Ilyas dalam bukunya Kuliah Aqidah Islam menyatakan, iblis itulah nenek moyang seluruh setan, yang seluruhnya selalu durhaka kepada Allâh SWT dan bertekad untuk menggoda umat manusia (anak cucu Adam) mengikuti langkah mereka menentang perintah Allâh SWT.
Manusia yang mukallaf (diperintahkan untuk mengerjakan syari’at agama) adalah objek yang menarik bagi setan. Manusia yang sudah baligh dan mumayiz (sudah bisa membedakan baik dan buruk) adalah sasaran empuk mereka. Bisa menyebarkan kesesatan di antara manusia menjadi cita-cita akbar. Merebut hamba-hamba dari jalan-Nya untuk dijadikan budak (pengikut) mereka adalah dambaan bagi mereka.
Manusia yang menjadi pengikut setan ini disebut golongan setan (hizbu al-syaithan). Yaitu mereka yang sadar ataupun tidak sadar telah mengikuti kebobrokan perbuatan-perbuatan setan. Cirinya ialah pertama, mereka dikuasai setan, kedua, mereka lupa kepada Allâh SWT. Seperti yang telah Allâh jelaskan dalam surah al-Mujâdalah [58]: 19, Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allâh, mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi.
Dalam menjalankan ekspansinya untuk menyesatkan manusia (tadhlil), setidaknya ada delapan cara yang digencarkan oleh setan untuk dapat menguasai manusia. Cara-cara itu ialah [1] Waswasah (bisikan), [2] Nis-yan (membuat lupa), [3] Tamanni (angan-angan), [4] Tazyin (memandang indah maksiat), [5] Wa’dun (janji palsu), [6] Kaidun (tipu daya), [7] shaddun (menghalangi ke jalan Allâh), [8] ‘Adawah (biang permusuhan).

Waswasah (Bisikan)
Setan membisikkan manusia ke jalan kesesatan melalui berbagai perihal. Ketika berdiri, duduk, berjalan, bekerja, dan di setiap aktivitas. Setan tak pernah merasa lelah dan menyerah membelokkan jalan manusia. Ketika bekerja setan akan beraksi dengan menawarkan kesenangan dunia. Bisikan-bisikannya tajam nan menggiurkan, tak lain seputar manisnya dunia. Mensugesti manusia bahwa akhirat itu belum pasti adanya, sehingga mengajak manusia mengutamakan dunia dari pada akhirat. Membuyarkan niat ikhlas manusia untuk beramal ibadah dalam rangka mengharap ridha-Nya.

Nis-yan (Membuat lupa)
Setan melupakan manusia dari mengingat Allâh dalam setiap aktivitas kita. Orientasi kerja yang seharusnya untuk mengharap ridha-Nya dilenyapkan dari pikiran kita dan dibelokkan menjadi orientasi pemenuhan kebutuhan keduniaan semata. Berbagai komitmen menjalankan syari’at (jujur, bersungguh-sungguh, disiplin, dsb) perlahan-lahan dihapus dari memori kita. Sehingga pelan-pelan kita mulai menabrak batas-batas syari’at.
Allâh SWT berfirman, “Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu sesudah teringat (akan larangan itu)” (Q.S. al-An’âm [6]: 68)

Tamani (Angan-angan)
Setan merekayasa sehingga pikiran kita penuh khayalan dan angan-angan kosong. Dalam keadaan apapun setan akan membuyarkan konsentrasi. Apabila setan sudah berhasil membuat kita lepas konsentrasi, maka selanjutnya setan membuat kita betah berkhayal. Hal ini telah ditegaskan Allâh SWT dalam Q.S al-Nisâ’, “Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka …” (Q.S.al-Nisâ’ [4]: 19). Dan dikuatkan lagi pada ayat selanjutnya, “Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka” (Q.S. al-Nisâ’ [4]: 19)

Tazyin (Memandang indah maksiat)
Dengan segala kelihaiannya, berbagai bentuk kemaksiatan itu baik yang kecil maupun yang besar, dikemas dengan begitu menariknya. Apa yang menjadi tawaran setan seolah hal yang mampu membuat penasaran sehingga tidak sedikit manusia yang tergoda. Setan pandai memutar keadaan, mana yang baik di mata Allâh dijadikan menjemukan di mata manusia. Dan apa-apa yang buruk dijadikan menarik bagi manusia. Iblis berkata, “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya” (Q.S. al-Hijr [15]: 39)

Wa’dun (Janji palsu)
Tak ada yang ditawarkan setan selain janji palsu yang pada saat di akhirat ia tak akan mau menepatinya. Setan akan mengakui bahwa apa yang telah dijanjikannya adalah janji palsu, sekadar agar manusia mau mengikuti jalannya. Simaklah ayat berikut, “Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, “Sesungguhnya Allâh telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allâh) sejak dahulu.” Sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu mendapat siksaan yang pedih” (Q.S. Ibrahim [14]: 22)

Kaidun (Tipu daya)
Karena sudah tau bahwa jalannya menyekutukan Allâh adalah sesat maka setan yakin pasti manusia tak akan ada yang mau mengikutinya. Oleh karena itu, dengan bualan manisnya, dalam merekrut pengikutnya setan menggunakan jalan menipu dan memperdaya. Bagi orang yang masih lemah imannya tentu akan dengan mudah ditipu dan diperdaya olehnya. Namun bagi yang telah memantapkan iman dan mengokohkan aqidah, maka perisai ketauhidan akan menjaganya dari tipuan setan. “Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya” (Q.S. al-Nahl [16]: 99)

Shaddun (Menghalangi ke jalan Allâh)
Ketika kita berniat melakukan kebaikan, mereka akan selalu mengusik sehingga tak jarang kita dibuat ragu memulai pekerjaan. Kita dihalang-halangi sehingga kita berpikir ulang untuk melakukan suatu kebajikan. Setan membuat kita berpikir “nanti dulu” atau “sebentar lagi”. Mereka mengulur-ulur waktu agar kita tak segera memulai aktivitas. Mereka itu akan menjadi penghambat atau bahkan pembatal kita dalam berbuat kebaikan. Gangguan mereka akan terus ada hingga kita mengurungkan niat bekerja atau menanggalkan pekerjaan yang sedang kita lakukan.

‘Adawah (Biang permusuhan)
Sudah menjadi sunnatullâh bahwa di antara manusia itu pasti ada perbedaan. Mulai dari hal kecil sampai hal yang besar dan rumit. Dalam interaksi itu, hendaknya kita bersikap bijak, tetap tenang, dan saling menghargai. Sebab sedikit kesalahan berkomunikasi akan rawan sekali menimbulkan permusuhan di antara sesama manusia. “Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu…” (Q.S. al-Mâ’idah [5]: 91)
Demikianlah berbagai jalan yang ditempuh setan dalam menyesatkan anak cucu Adam. Ibnu al-Qayyim rahimahullâh menyatakan bahwa jihad paling wajib ialah jihad melawan jiwa, jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan setan, dan jihad melawan dunia. Siapa berjihad melawan keempat hal itu karena Allâh, Dia memberinya petunjuk kepada jalan-jalan keridhaan-Nya, yang membawanya ke surga-Nya. Sebaliknya, siapa tidak berjihad melawan keempat hal itu, ia gagal mendapatkan petunjuk dan kadar kegagalannya tergantung kepada sejauh mana ia meninggalkan jihad. Semoga kita selalu mampu untuk saling menasihati agar sama-sama terhindar dari ajakan setan. Amîn.[]

40 Nasehat Hasan Al Banna


Disadur langsung dari buku Angkatan Mujahid karangan Said Hawwa~
Bagi seorang mujahid dakwah, ada kewajiban yang harus dia tunaikan dalam operasi dakwahnya. Kewajiban-kewajiban ini adalah dalam rangka membentuk peribadi mujahid untuk menjadi batu bata yang kuat bagi bangunan Islam. Untuk itu Hasan Al Banna telah merangka kewajiban-kewajiban berikut bagi para mujahid dakwah.

Said Hawwa mengatakan bahwa kewajiban di sini bukan berarti wajib dalam pengertian syari'e, tetapi lebih luas dari itu. Kewajiban-kewajiban tersebut ada di antaranya yang fardhu, ada pula yang sunnah. Oleh kerana itu, kata wajib di sini bererti segala bentuk komitmen dakwah yang dituntut oleh gerakan Islam masa kini.

Berikut ini adalah rincian kewajiban-kewajiban tersebut:

1. Hendaklah engkau memiliki wirid harian dari Kitabullah tidak kurang dari satu juz. Usahakan untuk mengkhatamkan Al Qur'an dalam waktu tidak lebih dari sebulan dan tidak kurang dari tiga hari.

2. Hendaklah engkau membaca Al Qur'an dengan baik, memperhatikannya dengan saksama, dan renungkan ertinya (tadabbur ayat).

3. Hendaklah engkau mengkaji Sirah Nabi dan sejarah para generasi salaf sesuai dengan waktu yang tersedia. Buku yang dirasa mencukupi keperluan ini minimal adalah buku Hummatul Islam. Hendaklah engkau juga banyak membaca hadits Rasulullah saw, minimal hafal empat puluh hadits; ditekankan untuk menghafal Al Arba'in An Nawawiyah. Hendaklah engkau juga mengkaji risalah tentang pokok-pokok aqidah dan cabang-cabang fiqih.

4. Hendaklah engkau bersegara melakukan general check up secara berkala atau berubat, begitu penyakit terasa mengenaimu. Di samping itu perhatikanlah faktor-faktor penyebab kekuatan dan perlindungan tubuh, serta hindarilah faktor-faktor penyebab lemahnya kesehatan.

5. Hendaklah engkau menjauhi sikap berlebihan dalam mengkonsumsi kopi, teh, dan minuman perangsang selainnya. Janganlah engkau meminumnya kecuali dalam keadaan darurat dan hendaklah engkau menghindarkan diri sama sekali dari rokok.

6. Hendaklah engkau perhatikan urusan kebersihan dalam segala hal menyangkut tempat tinggal, pakaian, makanan, badan, dan tempat kerja, karena agama ini dibangun di atas dasar kebersihan.

7. Hendaklah engkau jujur dalam berkata dan jangan sekali-kali berdusta.

8. Hendaklah engkau menepati janji, janganlah mengingkarinya, bagaimanapun kondisi yang

engkau hadapi.

9. Hendaklah engkau menjadi seorang yang pemberani dan tahan uji. Keberanian yang paling utama adalah terus terang dalam mengatakan kebenaran, ketahanan menyimpan rahasia, berani mengakui kesalahan, adil terhadap diri sendiri, dan dapat menguasainya dalam keadaan marah sekalipun.

10. Hendaklah engkau senantiasa bersikap tenang dan terkesan serius. Namun janganlah keseriusan itu menghalangimu dari canda yang benar, senyum, dan tawa.

11. Hendaklah engkau memiliki rasa malu yang kuat, berperasaan yang sensitif, dan peka oleh kebaikan dan keburukan, yakni munculnya rasa bahagia untuk yang pertama dan rasa tersiksa untuk yang kedua. Hendaklah engkau juga bersikap rendah hati dengan tanpa menghinakan diri, tidak bersikap taqlid, dan tidak terlalu lembut hati. Hendaklah engkau juga menuntut dari orang lain yang lebih rendah dari martabatmu untuk mendapatkan martabatmu yang sesungguhnya.

12. Hendaklah engkau bersikap adil dan benar dalam memutuskan suatu perkara pada setiap situasi. Janganlah kemarahan melalaikanmu dari perbuatan kebaikan, janganlah mata keredhaan engkau pejamkan dari perilaku buruk, janganlah permusuhan membuatmu lupa dari pengakuan jasa baik, dan hendaklah engkau berkata benar meskipun itu merugikanmu atau merugikan orang yang paling dekat denganmu.

13. Hendaklah engkau menjadi pekerja keras dan terlatih dalam aktiviti sosial. Hendaklah engkau merasa bahagia jika dapat mempersembahkan bakti untuk orang lain, gemar melawat orang sakit, membantu orang yang memerlukan, menanggung orang yang lemah, meringankan beban orang yang tertimpa musibah meskipun hanya dengan kata-kata yang baik. Hendaklah engkau juga senantiasa bersegera untuk berbuat kebaikan.

14. Hendaklah engkau berhati kasih, dermawan, bertolak ansur, pemaaf, lemah lembut kepada manusia mahupun binatang, berperilaku baik dalam berhubungan dengan semua orang, menjaga etika-etika sosial Islam, menyayangi yang kecil dan menghormati yang besar, memberi tempat kepada orang lain dalam majlis, tidak memata-matai, tidak menggunjing, tidak mengumpat, meminta izin jika masuk maupun keluar rumah, dan lain-lain.

15. Hendaklah engkau pandai membaca dan menulis, memperbanyak mentelaah terhadap risalah Ikhwan (majalah IM), akhbar, majalah, dan tulisan lainnya. Hendaklah engkau bangun perpustakaan khusus, seberapapun ukurannya; kosentrasilah terhadap spesifikasi keilmuan dan keahlianmu jika engkau seorang spesialis; dan kuasailah persoalan Islam secara umum yang dengannya dapat membangun persepsi yang baik untuk menjadi rujukan bagi pemahaman terhadap tuntutan fikrah.

16. Hendaklah engkau memiliki projek usaha ekonomi; betapa pun engkau seorang kaya utamakanlah projek yang mandiri, betapa pun kecilnya; dan cukupkanlah dengan apa yang ada pada dirimu, betapa pun tingginya kapasiti keilmuanmu.

17. Janganlah engkau terlalu berharap untuk menjadi pegawai negeri dan jadikanlah ia sebagai sesempit-sempitnya pintu rezeki, namun jangan pula engkau tolak jika diberi peluang untuk itu. Janganlah engkau melepaskannya kecuali jika ia benar-benar bertentangan dengan tugas-tugas dakwahmu.

18. Hendaklah engkau perhatikan penunaian tugas-tugasmu (bagaimana kecermatan dan kuantitinya), janganlah menipu, dan tepatilah kesepakatan.

19. Hendaklah engkau penuhi hakmu dengan baik, penuhi hak-hak orang lain dengan sempurna tanpa dikurangi dan dilebihkan, dan janganlah menunda-nunda pekerjaan.

20. Hendaklah engkau menjauhkan diri dari judi dengan segala macamnya, apapun maksud di baliknya. Hendaklah engkau juga menjauhi mata pencaharian yang haram, betapapun keuntungan besar yang ada di baliknya.

21. Hendaklah engkau menjauhkan diri dari riba dalam setiap aktivitimu dan sucikanlah ia sama sekali dari riba.

22. Hendaklah engkau memelihara kekayaan umat Islam secara umum dengan mendorong berkembangnya projek-projek ekonomi Islam. Engkau pun hendaklah menjaga setiap keping mata wang agar tidak jatuh ke tangan orang non-Islam dalam keadaan bagaimanapun. Janganlah makan dan berpakaian kecuali produk negeri Islammu sendiri.

23. Hendaklah engkau memiliki kontribusi kewangan dalam dakwah, engkau tunaikan kewajiban zakatmu, dan jadikan sebagian dari hartamu itu untuk orang yang meminta dan orang yang kekurangan, betapapun kecil penghasilanmu.

24. Hendaklah engkau menyimpan sebagian dari penghasilanmu untuk persediaan masa-masa sulit, betapapun sedikit, dan janganlah sekali-kali menyusahkan dirimu untuk mengejar kesempurnaan.

25. Hendaklah engkau bekerja semampu yang engkau lakukan untuk menghidupkan tradisi Islam dan mematikan tradisi jahiliyyah dalam setiap aspek kehidupanmu. Misalnya ucapan salam, bahasa, sejarah, pakaian, perabot rumah tangga, cara kerja dan istirahat, cara makan dan minum, cara datang dan pergi, serta gaya menunjukkan rasa suka dan duka. Hendaklah engkau menjaga sunah dalam setiap aktivitas tersebut.

26. Hendaklah engkau memboikot peradilan setempat atau seluruh peradilan yang tidak Islami, demikian juga gelanggang-gelanggang, penerbitan-penerbitan, organisasi-organisasi, sekolah-sekolah, dan segenap institusi yang tidak mendukung fikrahmu secara total.

27. Hendaklah engkau senantiasa merasakan diawasi oleh Allah, mengingat akhirat dan bersiap-siap untuk menjemputnya, mengambil jalan pintas untuk menuju ridha Allah dengan tekad yang kuat, serta mendekatkan diri kepada-Nya dengan ibadah sunah, seperti shalat malam, puasa tiga hari minimum setiap bulan, memperbanyak dzikir (hati dan lisan), dan berusaha mengamalkan doa yang diajarkan pada setiap kesempatan).

28. Hendaklah engkau bersuci dengan baik dan usahakan agar senantiasa dalam keadaan berwudhu (suci) di sebagian besar waktumu.

29. Hendaklah engkau melakukan shalat pada saatnya, di manapun ia berada, dan seketika itu juga.

30. Hendaklah engkau berpuasa Ramadhan dan berhaji dengan baik, jika engkau mampu melakukannya. Kerjakan sekarang juga jika engkau telah mampu.

31. Hendaklah engkau senantiasa menyertai dirimu dengan niat jihad dan cinta mati syahid. Bersiaplah untuk itu bila saja kesempatan untuk itu tiba.

32. Hendaklah engkau senantiasa memperbaharui taubat dan istighfarmu. Berhati-hatilah terhadap dosa kecil, apalagi dosa besar. Sediakanlah untuk dirimu beberapa saat sebelum tidur untuk muhasabah diri terhadap apa-apa yang telah engkau lakukan; yang baik maupun yang buruk. Perhatikan waktumu, karena waktu itu adalah kehidupan itu sendiri.

Janganlah engkau pergunakan ia sedikit pun tanpa guna, dan janganlah engkau ceroboh terhadap hal-hal yang syubhat agar tidak jatuh ke dalam kubangan yang haram.

33. Hendaklah engkau berjuang meningkatkan kemampuanmu dengan sungguh-sungguh agar engkau dapat menerima tongkat kepemimpinan. Hendaklah engkau menundukkan pandanganmu, menekan emosimu, dan memotong habis selera-selera rendah dari jiwamu. Bawalah ia hanya untuk menggapai yang halal dan baik, serta hijabilah ia dari yang haram dalam keadaan bagaimanapun.

34. Hendaklah engkau jauhi khamr (alcohol) dan seluruh makanan atau minuman yang memabukkan sejauh-jauhnya.

35. Hendaklah engkau menjauh dari pergaulan dengan orang jahat dan persahabatan dengan orang yang rosak, serta jauhilah tempat-tempat maksiat.

36. Hendaklah engkau perangi tempat-tempat iseng, jangan sekali-kali mendekatinya, serta jauhilah gaya hidup mewah dan bersantai-santai.

37. Hendaklah engkau mengetahui anggota katibahmu satu persatu dengan pengetahuan yang lengkap, dan kenalkanlah dirimu kepada mereka dengan selengkap-lengkapnya. Tunaikanlah hak-hak ukhuwah mereka dengan seutuhnya; hak kasih sayang, penghargaan, pertolongan, dan itsar. Hendaklah engkau senantiasa hadir di majlismereka, tidak hadir kecuali karena udzur darurat, dan pegang teguhlah sikap itsar dalam pergaulanmu dengan mereka.

38. Hendaklah engkau hindari hubungan dengan organisasi atau jamaah apapun sekiranya hubungan itu tidak membawa maslahat bagi fikrahmu, terutama jika diperintahkan untuk itu.

39. Hendaklah engkau menyebarkan dakwahmu di manapun dan memberi informasi kepada pemimpin tentang segala keadaab yang melingkupimu. Janganlah engkau berbuat sesuatu yang berdampak strategis kecuali dengan seizinnya.

40. Hendaklah engkau senantiasa menjalin hubungan, baik secara ruhani maupun amali, dengan Jamaah dan menempatkan dirimu sebagai tentara yang berada di tangsi yang tengah menanti arahan komandan.

10 Des 2013

Android Kit Kat

 

Android Kit Kat ya inilah  beritanya seperti dilansir oleh Kompas .com :

Google memutuskan untuk memblokir kata-kata dalam bahasa Inggris yang tidak pantas/sopan di sistem operasi terbarunya, KitKat. Langkah Google ini mengikuti jejak Apple yang sebelumnya juga memblokir kosakata yang tidak sopan dalam perangkat iPhone.
Saat itu Steve Jobs khawatir smartphone buatan Apple akan disalahgunakan penggunanya untuk mengakses konten-konten pornografi.
Saat ini Google telah merinci daftar kata apa saja yang akan diblokir. Daftar kata tersebut nantinya bakal tidak dikenali oleh smartphone. Sistem operasi kemudian akan menyarankan kosakata lain.
Jumlah kosakata "terlarang" yang dihimpun tim Google saat ini mencapai 165.000 kata dalam bahasa Inggris.
Muncul banyak perdebatan akan kosakata yang dilarang oleh Android ini, beberapa orang menganggap ada kata yang seharusnya tidak masuk dalam daftar tetapi malah dilarang, seperti "lactation".
Contoh lain adalah kata "bong" yang diperbolehkan, tetapi "morphin" tidak; "Nazi" boleh, tetapi "Klansmen" dan "supremacist" tidak. "Apple" dan "Microsoft" boleh, tetapi "AMD" atau "Garmin" tidak boleh. "Geek" juga masuk dalam daftar terlarang di KitKat.
Google belum menjelaskan bagaimana metode yang dipakai untuk mengumpulkan daftar kata terlarang tersebut.
Kritikus teknologi Chris Matyszczyk di situs CNET (3/12/2013) menganjurkan agar Google dan Apple jangan terlalu berprasangka negatif atau terlalu sering mengoreksi kata secara otomatis. Menurutnya, smartphone itu seharusnya menjadi benda milik pribadi, dan pengguna memiliki kebebasan dalam berekspresi dengan smartphone-nya.

Sumber : CNET
Editor  : Wicak Hidayat

Nah sekarang gimana tertarik mau ganti Androimu yang lama?