Disampaiakan Oleh
Teknik Kimia/ FTI-UII/ 2010
Sesungguhnya setan itu
adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya
setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi
penghuni neraka yang menyala-nyala (Q.S. Fâthir [35]: 6).
Kita tentu telah sama-sama mengetahui makhluk Allâh yang terkenal
karena pembangkangannya saat diperintah untuk sujud kepada Nabi Adam
a.s. dan berkomitmen untuk senantiasa mengganggu serta menjerumuskan
anak cucu Adam kepada kesesatan yang mana muaranya adalah berujung pada
al-Nâr. Mereka itu adalah setan yang merupakan keturunan dari iblis.
Setan merupakan golongan yang senantiasa menggoda manusia menjauh
dari jalan Allâh. Mereka itu yang selalu senang ketika manusia
taklid
(patuh) pada jalan mereka yang sesat. Mereka punya seribu cara menggaet
manusia untuk dijerumuskan dalam dosa. Jika tidak mengajak bicara
dusta, maka mereka akan mengajak berkata kotor. Jika tidak membuat
malas, mereka coba melalaikan. Jika tak mengarahkan ber-
su’uzhan (berburuk sangka) maka mereka coba menciptakan
hasad
(dengki) di dalam hati kita. Singkatnya, segala upaya dan cara akan
digunakan demi merekrut massa sebanyak-banyaknya dari golongan kita
(manusia) untuk menjadi teman mereka di neraka kelak.
Kata setan berasal dari kata
syaithana artinya
menjauh. Dinamai setan karena jauhnya dia dari kebenaran. (Shabuni,
1977, hal. 17). Setan merupakan keturunan (anak cucu) iblis, yaitu yang
pertama kali membangkang ketika diperintah sujud kepada Nabi Adam a.s.
Sementara itu Yunahar Ilyas dalam bukunya Kuliah Aqidah Islam
menyatakan, iblis itulah nenek moyang seluruh setan, yang seluruhnya
selalu durhaka kepada Allâh SWT dan bertekad untuk menggoda umat manusia
(anak cucu Adam) mengikuti langkah mereka menentang perintah Allâh SWT.
Manusia yang
mukallaf (diperintahkan untuk mengerjakan
syari’at agama) adalah objek yang menarik bagi setan. Manusia yang sudah
baligh dan
mumayiz
(sudah bisa membedakan baik dan buruk) adalah sasaran empuk mereka.
Bisa menyebarkan kesesatan di antara manusia menjadi cita-cita akbar.
Merebut hamba-hamba dari jalan-Nya untuk dijadikan budak (pengikut)
mereka adalah dambaan bagi mereka.
Manusia yang menjadi pengikut setan ini disebut golongan setan (
hizbu al-syaithan). Yaitu mereka yang sadar ataupun tidak sadar telah mengikuti kebobrokan perbuatan-perbuatan setan. Cirinya ialah
pertama, mereka dikuasai setan,
kedua, mereka lupa kepada Allâh SWT. Seperti yang telah Allâh jelaskan dalam surah al-Mujâdalah [58]: 19,
Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allâh, mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi.
Dalam menjalankan ekspansinya untuk menyesatkan manusia (
tadhlil), setidaknya ada delapan cara yang digencarkan oleh setan untuk dapat menguasai manusia. Cara-cara itu ialah [1]
Waswasah (bisikan), [2]
Nis-yan (membuat lupa), [3]
Tamanni (angan-angan), [4]
Tazyin (memandang indah maksiat), [5]
Wa’dun (janji palsu), [6]
Kaidun (tipu daya), [7]
shaddun (menghalangi ke jalan Allâh), [8]
‘Adawah (biang permusuhan).
Waswasah (Bisikan)
Setan membisikkan manusia ke jalan kesesatan melalui berbagai
perihal. Ketika berdiri, duduk, berjalan, bekerja, dan di setiap
aktivitas. Setan tak pernah merasa lelah dan menyerah membelokkan jalan
manusia. Ketika bekerja setan akan beraksi dengan menawarkan kesenangan
dunia. Bisikan-bisikannya tajam nan menggiurkan, tak lain seputar
manisnya dunia. Mensugesti manusia bahwa akhirat itu belum pasti adanya,
sehingga mengajak manusia mengutamakan dunia dari pada akhirat.
Membuyarkan niat ikhlas manusia untuk beramal ibadah dalam rangka
mengharap ridha-Nya.
Nis-yan (Membuat lupa)
Setan melupakan manusia dari mengingat Allâh dalam setiap aktivitas
kita. Orientasi kerja yang seharusnya untuk mengharap ridha-Nya
dilenyapkan dari pikiran kita dan dibelokkan menjadi orientasi pemenuhan
kebutuhan keduniaan semata. Berbagai komitmen menjalankan syari’at
(jujur, bersungguh-sungguh, disiplin, dsb) perlahan-lahan dihapus dari
memori kita. Sehingga pelan-pelan kita mulai menabrak batas-batas
syari’at.
Allâh SWT berfirman,
“Dan apabila kamu melihat orang-orang
memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga
mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu sesudah teringat (akan larangan itu)” (Q.S. al-An’âm [6]: 68)
Tamani (Angan-angan)
Setan merekayasa sehingga pikiran kita penuh khayalan dan angan-angan
kosong. Dalam keadaan apapun setan akan membuyarkan konsentrasi.
Apabila setan sudah berhasil membuat kita lepas konsentrasi, maka
selanjutnya setan membuat kita betah berkhayal. Hal ini telah ditegaskan
Allâh SWT dalam Q.S al-Nisâ’, “
Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka …” (Q.S.al-Nisâ’ [4]: 19). Dan dikuatkan lagi pada ayat selanjutnya, “
Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka” (Q.S. al-Nisâ’ [4]: 19)
Tazyin (Memandang indah maksiat)
Dengan segala kelihaiannya, berbagai bentuk kemaksiatan itu baik yang
kecil maupun yang besar, dikemas dengan begitu menariknya. Apa yang
menjadi tawaran setan seolah hal yang mampu membuat penasaran sehingga
tidak sedikit manusia yang tergoda. Setan pandai memutar keadaan, mana
yang baik di mata Allâh dijadikan menjemukan di mata manusia. Dan
apa-apa yang buruk dijadikan menarik bagi manusia. Iblis berkata,
“Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti
aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka
bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya” (Q.S. al-Hijr [15]: 39)
Wa’dun (Janji palsu)
Tak ada yang ditawarkan setan selain janji palsu yang pada saat di
akhirat ia tak akan mau menepatinya. Setan akan mengakui bahwa apa yang
telah dijanjikannya adalah janji palsu, sekadar agar manusia mau
mengikuti jalannya. Simaklah ayat berikut,
“Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan,
“Sesungguhnya Allâh telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan
akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali
tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru
kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca
aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat
menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya
aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allâh)
sejak dahulu.” Sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu mendapat siksaan yang pedih” (Q.S. Ibrahim [14]: 22)
Kaidun (Tipu daya)
Karena sudah tau bahwa jalannya menyekutukan Allâh adalah sesat maka
setan yakin pasti manusia tak akan ada yang mau mengikutinya. Oleh
karena itu, dengan bualan manisnya, dalam merekrut pengikutnya setan
menggunakan jalan menipu dan memperdaya. Bagi orang yang masih lemah
imannya tentu akan dengan mudah ditipu dan diperdaya olehnya. Namun bagi
yang telah memantapkan iman dan mengokohkan aqidah, maka perisai
ketauhidan akan menjaganya dari tipuan setan.
“Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya” (Q.S. al-Nahl [16]: 99)
Shaddun (Menghalangi ke jalan Allâh)
Ketika kita berniat melakukan kebaikan, mereka akan selalu mengusik
sehingga tak jarang kita dibuat ragu memulai pekerjaan. Kita
dihalang-halangi sehingga kita berpikir ulang untuk melakukan suatu
kebajikan. Setan membuat kita berpikir “nanti dulu” atau “sebentar
lagi”. Mereka mengulur-ulur waktu agar kita tak segera memulai
aktivitas. Mereka itu akan menjadi penghambat atau bahkan pembatal kita
dalam berbuat kebaikan. Gangguan mereka akan terus ada hingga kita
mengurungkan niat bekerja atau menanggalkan pekerjaan yang sedang kita
lakukan.
‘Adawah (Biang permusuhan)
Sudah menjadi
sunnatullâh bahwa di antara
manusia itu pasti ada perbedaan. Mulai dari hal kecil sampai hal yang
besar dan rumit. Dalam interaksi itu, hendaknya kita bersikap bijak,
tetap tenang, dan saling menghargai. Sebab sedikit kesalahan
berkomunikasi akan rawan sekali menimbulkan permusuhan di antara sesama
manusia.
“Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu…”
(Q.S. al-Mâ’idah [5]: 91)
Demikianlah berbagai jalan yang ditempuh setan dalam menyesatkan anak cucu Adam. Ibnu al-Qayyim
rahimahullâh
menyatakan bahwa jihad paling wajib ialah jihad melawan jiwa, jihad
melawan hawa nafsu, jihad melawan setan, dan jihad melawan dunia. Siapa
berjihad melawan keempat hal itu karena Allâh, Dia memberinya petunjuk
kepada jalan-jalan keridhaan-Nya, yang membawanya ke surga-Nya.
Sebaliknya, siapa tidak berjihad melawan keempat hal itu, ia gagal
mendapatkan petunjuk dan kadar kegagalannya tergantung kepada sejauh
mana ia meninggalkan jihad. Semoga kita selalu mampu untuk saling
menasihati agar sama-sama terhindar dari ajakan setan. Amîn.[]