Tampilkan postingan dengan label ISLAMPEDIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ISLAMPEDIA. Tampilkan semua postingan

15 Apr 2014

7 Asteroid Aneh yang Pernah Ditemukan di Dunia


Asteroid merupakan benda kecil yang menyerupai planet, dan lebih besar dari Meteoroid. Asteroid pertama yang ditemukan adalah pada tahun 1801 oleh Giuseppe Piazzi. Dan setelah itu banyak sekali Asteroid yang di temukan dan mempunyai ke anehan ataupun keunikan masing-masing.
Nah, berikut adalah asteroid-asteroid aneh  yang Pernah dtemukan di Bumi

Ilustrasi
1. Ceres
Ditemukan oleh Giuseppe Piazzi, 1 Januari 1801.
Sebagai asteroid terbesar, Ceres mendapat julukan "planet katai" (Dwarf Planet). Karena ukurannya pula, ia menjadi asteroid yang ditemukan pertama kali. Sebegitu besarnya Ceres, sehingga ia jadi satu-satunya asteroid yang memiliki gaya gravitasi untuk menarik diri sendiri ke dalam lingkaran suatu planet.

2. Baptistina 
Disebut juga sebagai induk dari asteroid pemusnah dinosaurus dan merupakan salah satu anggota termuda di sabuk asteroid. Berdasarkan model komputer, Baptistina dan kawanan asteroidnya terjadi sekitar 160 juta tahun lalu. Tumbukan yang disebabkan Baptistina membuat ratusan objek langit lainnya beradu dengan Bumi. Salah satunya jatuh ke planet ini pada 65 juta tahun lalu dan memusnahkan dinosaurus. Wikipedia.org
Catatan: hipotesa ini ditentang oleh beberapa teori lain. Apakabardunia akan membahasnya lain kesempatan

3. Hektor, si Trojan terbesar 
Asteroid ini memiliki dimensi sekitar 200 kilometer dan memiliki bulan sendiri. Ia merupakan bagian dari asteroid Trojan yang terikat dalam orbit planet Jupiter.

4.  Kleopatra
Asteroid ini berbentuk seperti tulang mainan anjing dan memiliki dua bulan yang dinamai Alexhelios dan Cleoselene.

5. Themis 
Asteroid ini diketahui sebagai satu-satunya yang memiliki es di permukaannya. Selain es, pada tahun 2009, observasi menggunakan infra-merah memastikan adanya karbon dan molekul. Karakter ini membuat Themis sebagai kandidat kuat asteroid yang bisa menyokong kehidupan.

6. Toutatis
 Benda langit ini dinamai sesuai dengan nama dewa bangsa Celtic. Toutatis masuk dalam karakter unik karena berotasi dengan acak, bahkan terkesan terhuyung. Hal ini kemungkinan besar terjadi karena Toutatis terdiri dari dua bagian dan dipengaruhi gravitasi Bumi dan Jupiter. Jalur rotasinya yang tidak pasti membuatnya sulit diprediksi.

 7. Apophis
Ditemukan pada 2004 dan diambil dari bahasa Yunani yang berarti "Dewa jahat mesir untuk kegelapan". Sesuai namanya, asteroid ini sempat membuat kepanikan di dunia astronomi pada tahun 2004. Apophis masuk dalam peringkat empat dari sepuluh dalam skala Torino. Skala 10 jadi patokan tertinggi atas risiko benda langit yang menumbuk Bumi dan dianggap sebagai kiamat.
Apophis diprediksi akan mendekati Bumi pada 13 April 2029 dengan jarak sekitar 30 ribu kilometer.

  Semoga semakin menambah keimanan Kita kepada Allah Tuhan Pencipta Alam Semesta. :)
Sumber :  Wikipedia.org

14 Apr 2014

10 Kualitas Pribadi Yang Disukai


 

Ingin Jadi Pribadi yang disukai banyak orang. Ikuti tips tips berikut semoga bermanfaat ya..

10 Kualitas Pribadi yang Disukai

1. Ketulusan

Menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai, karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura-pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya “Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak”. Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.

2. Berbeda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, kerendahan hati justru mengungkapkan kekuatan.

Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk.Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain.Ia bisa membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang dibawahnya tidak merasa minder.

3. Kesetiaan

Sudah menjadi barang langka dan sangat tinggi harganya.Orang yang setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janjinya, mempunyai komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.

4. Orang yang bersikap positif

Selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keputusasaan, lebih suka mencari solusi. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dsb.

5. Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidak harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh, tapi sikap hati.

Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi orang lain, juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain.

6. Orang yang bertanggung jawab

Akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan, bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.

7. Rasa percaya diri

Memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru.

Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.

8. Kebesaran jiwa

Dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain. Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Ketika menghadapi masa-masa sukar dia tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.

9. Orang-orang yang “Easy Going” menganggap hidup ini ringan.

Dia tidak suka membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalah yang berada diluar kontrolnya.

10. Empati

Adalah sifat yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukan saja pendengar yang baik, tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.

7 Apr 2014

Tips Mengendalikan Amarah ala Islam

       
 
 “Barang siapa yang dapat menahan amarahnya, sementara ia dapat meluapkannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan segenap mahluk. Setelah itu, Allah menyuruhnya memilih bidadari surga dan menikahkannya dengan siapa yang ia kehendaki.” (HR Ahmad).

        Begitu istimewanya imbalan yang diberikan bagi orang yang dapat mengendalikan amarahnya, sampai Allah pun mempersilahkan ia untuk memilih bidadari surga yang ia suka. Lalu, bagaimana caranya mengendalikan amarah?

      Syekh Abdul Azis bin Fathi as-Sayyid Nada dalam kitab Mausuu’atul Aadaab al-Islamiyah mengungkapkan hendaknya seorang Muslim memperhatikan adab-abad yang berkaitan dengan marah. Berikut adab atau cara mengendalikan marah menurut Islam:
  1. Jangan marah kecuali karena Allah SWT. Marah karena Allah merupakan sesuatu yang disukai dan mendapatkan pahala. Seorang Muslim yang marah karena hukum Allah diabaikan merupakan contoh marah karena Allah, misalnya marah ketika menyaksikan perbuatan haram.
  2. Berlemah lembut dan tak marah karena urusan dunia. Sesungguhnya semua kemarahan itu buruk, kecuali karena Allah SWT. Abdul Azis bin Fathi as-Sayyid Nada mengingatkan, kemarahan kerap berujung pada pertikaian dan perselisihan yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam dosa besar dan dapat pula memutuskan silaturahim.
  3.  Mengingat keagungan dan kekuasaan Allah ketika marah. Ketika mengingat kebesaran Allah SWT, maka kemarahan bisa diredam. Bahkan, mungkin tak jadi marah sama sekali. Itulah adab paling bermanfaat yang dapat menolong seseorang untuk berlaku santun dan sabar.
  4.  Menahan dan meredam amarah jika telah muncul. Allah SWT menyukai seseorang yang dapat menahan dan meredam amarahnya. Allah SWT berfirman, ” … dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memberi maaf orang lain, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS Ali Imran:134).
  5.  Berlindung kepada Allah ketika marah. Nabi SAW bersabda, “Jika seseorang yang marah mengucapkan; ‘A’uudzu billah (aku berlindung kepada Allah SWT) niscaya akan reda kemarahannya.” (HR Ibu ‘Adi dalam al-Kaamil.)
  6.  Diam. Rasulullah SAW bersabda, “Ajarilah, permudahlah, dan jangan menyusahkan. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam.” (HR Ahmad). Terkadang orang yang sedang marah mengatakan sesuatu yang dapat merusak agamanya, menyalakan api perselisihan dan menambah kedengkian.
  7.  Mengubah posisi ketika marah. Mengubah posisi ketika marah merupakan petunjuk dan perintah Nabi SAW. Nabi SAW bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian marah ketika berdiri, maka hendaklah ia duduk. Apabila marahnya tidak hilang juga, maka hendaklah ia berbaring.” (HR Ahmad).
  8.  Berwudhu atau mandi. Menurut Syekh Sayyid Nada, marah adalah api setan yang dapat mengakibatkan mendidihnya darah dan terbakarnya urat syaraf.
  9.  Memberi maaf dan bersabar. Orang yang marah sudah selayaknya memberikan ampunan kepada orang yang membuatnya marah. Allah SWT memuji para hamba-Nya “… dan jika mereka marah mereka memberi maaf.” (QS Asy-Syuura:37).

      Itulah kesembilan cara yang bisa kita lakukan untuk meredam kemarahan. Terlihat sulit tapi percayalah, jika kita berniat merubah diri kita untuk menjadi lebih baik, beberapa cara meredam kemarahan seperti yang disebutkan diatas patut dicoba. Insya Allah kita dapat termasuk ke dalam golongan seperti yang disebutkan dalam hadits riwayat Imam Ahmad, yakni mendapat imbalan indah bertemu dengan bidadari surga dan dimuliakan-Nya.

Sumber : Etika Hidup Sehari Hari

Lima Kisah Hidup Kembali Setelah Mati Dalam Al Quran



 Sumber : Google.com


Suatu perkara yang wajib diimani dan tidak boleh diragukan adalah kekuasaan Allah untuk menghidupkan kembali makhluk yang telah mati. Pada tulisan kali ini, kami akan menyebutkan lima kisah tentang hidupnya kembali seseorang atau suatu kaum setelah diwafatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala yang disebutkan di dalam surat Al Baqarah.

1. Kisah tujuh puluh orang umat Nabi Musa ‘alaihis salam mati tersambar petir.

Kejadian ini terjadi ketika sebagian umat Nabi Musa ‘alaihis salam yang berjumlah tujuh puluh orang menuntut kepada beliau agar dapat menunjukkan wujudnya Allah ta’ala kepada mereka secara jelas dan terang. Jika Musa tidak mampu untuk memenuhi permintaan mereka tersebut, maka mereka tidak bersedia untuk beriman kepada Musa.

Namun ternyata Allah tidak menyukai perilaku mereka itu dan murka terhadap mereka. Allah pun menurunkan azab kepada mereka dengan menyambarkan petir kepada mereka. Ketika petir itu menyambar sebagian dari mereka, sebagian orang yang lainnya menyaksikan hal tersebut hingga kemudian merekapun disambar oleh petir pula.

Setelah mereka semua mati akibat disambar petir, barulah Allah menghidupkan mereka kembali agar mereka sadar dan mau bertaubat dari kesalahan mereka tadi.

Kejadian ini Allah sebutkan di dalam surat Al Baqarah ayat 55-56:


وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ (55) ثُمَّ بَعَثْنَاكُمْ مِنْ بَعْدِ مَوْتِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“(Ingatlah) ketika kalian berkata: “Wahai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas!” sehingga karena itu kalian disambar halilintar, sedangkan kalian saling menyaksikan (satu sama lain). Setelah itu Kami bangkitkan kalian sesudah kalian mati agar kalian bersyukur.”

2. Peristiwa terbunuhnya seseorang dari kaum Nabi Musa ‘alaihis salam.

Pada suatu hari, ada seorang umat Nabi Musa ‘alaihis salam yang mati terbunuh dan pelaku pembunuhannya tidak diketahui. Terjadilah perselisihan di antara sesama mereka dan saling tuduh-menuduh dengan mengatakan: “Kalianlah yang membunuh orang itu!” Lalu yang lain membalas: "Justru kalianlah yang sebenarnya membunuh dia!"

Akhirnya mereka melaporkan kejadian ini kepada Nabi Musa. Lalu beliau memerintahkan mereka untuk menyembelih seekor sapi betina dengan ciri-ciri khusus. Setelah sapi betina itu disembelih, lalu Allah memerintahkan untuk mengambil salah satu bagian dari anggota tubuh sapi betina tersebut untuk kemudian dipukulkan kepada orang yang telah mati dibunuh tadi.

Setelah orang mati itu dipukul dengan salah satu bagian anggota tubuh sapi betina tersebut, lalu tiba-tiba orang mati itu menjadi hidup kembali. Lalu orang-orang menanyakan kepada dia siapakah orang yang telah membunuhnya. Diapun kemudian memberitahukan kepada mereka nama orang yang telah membunuhnya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَإِذْ قَتَلْتُمْ نَفْسًا فَادَّارَأْتُمْ فِيهَا وَاللَّهُ مُخْرِجٌ مَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ (72) فَقُلْنَا اضْرِبُوهُ بِبَعْضِهَا كَذَلِكَ يُحْيِ اللَّهُ الْمَوْتَى وَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“(Ingatlah), ketika kalian membunuh jiwa (seorang manusia) lalu kalian saling tuduh menuduh tentang itu, dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kalian sembunyikan. Lalu Kami berfirman: “Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu!” Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati dan memperlihatkan kepada kalian tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kalian berpikir.” [QS Al Baqarah: 72-73]

3. Kisah penduduk negeri yang pergi menghindari wabah penyakit menular.

Pada masa dahulu kala di suatu negeri, terjangkitlah suatu wabah penyakit menular yang sangat berbahaya sehingga dapat menyebabkan kematian. Karena takut akan kematian, maka merekapun pergi meninggalkan negeri tersebut. Jumlah mereka cukup banyak, yaitu mencapai ribuan orang. Mereka menyangka bahwa dengan pergi keluar dari negeri tersebut mereka akan selamat dari kematian.

Ternyata persangkaan mereka itu adalah salah. Demi menunjukkan kekuasaan-Nya, Allah mematikan mereka seluruhnya. Setelah beberapa waktu lamanya mereka mati, akhirnya Allah kembali menghidupkan mereka agar mereka menyadari bahwa kematian itu sepenuhnya merupakan ketetapan Allah yang tidak bisa dihindari dan bahwasanya Allah itu berkuasa untuk menghidupkan kembali orang yang telah mati.

Kisah ini Allah ceritakan di dalam surat Al Baqarah ayat 243:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَهُمْ أُلُوفٌ حَذَرَ الْمَوْتِ فَقَالَ لَهُمُ اللَّهُ مُوتُوا ثُمَّ أَحْيَاهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka sebanyak ribuan orang karena takut mati, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Matilah kalian!”, kemudian Allah menghidupkan mereka (kembali). Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.”

4. Kisah seorang musafir.

Pada suatu ketika, ada seseorang yang melakukan perjalanan dengan menunggangi keledai. Setelah beberapa lama melakukan perjalanan, sampailah dia di sebuah kota yang tidak berpenghuni lagi dan bangunan-bangunan di sana sudah banyak yang roboh dan rusak.

Dia mengamati kota tersebut dan merasa takjub. Muncul di pikirannya bahwa kota yang penduduknya telah mati dan bangunannya telah hancur dan rusak parah sedemikian rupa, bagaimanakah caranya bila Allah ingin menghidupkan dan mengembalikan kota ini seperti sedia kala.

Lalu Allah mematikan orang tersebut selama seratus tahun, sehingga tinggallah keledai dan bekal makanan dan minumannya begitu saja di situ. Tak berapa lama kemudian, keledai itupun ikut mati di dekatnya.

Setelah seratus tahun berlalu, Allah menghidupkan kembali orang tersebut dan bertanya kepadanya: “Berapa lama engkau berada di sini?” Orang itu menjawab: “Saya baru berada di sini sekitar setengah hari atau satu hari saja.” Allah berkata: “Sebenarnya engkau telah berada di sini selama seratus tahun. Coba engkau lihat bekal makanan dan minumanmu, ia masih belum berubah. Lihatlah pula keledaimu, Kami ingin menjadikanmu sebagai bukti tanda kekuasaan-Ku kepada umat manusia. Perhatikanlah tulang keledaimu, bagaimanakah cara Kami menyusun dan menyambungnya kembali satu sama lain, kemudian setelah itu Kami balut ia dengan daging.”

Setelah orang itu melihat tanda kekuasaan Allah yaitu bagaimana Allah menghidupkan kembali binatang yang telah mati dan menjadi tulang belulang yang berserakan, diapun berkata: “Saya telah meyakini bahwasanya Allah itu Maha berkuasa atas segala sesuatu.”

Kisah ini disebutkan oleh Allah ta’ala di dalam surat Al Baqarah ayat 259:

أَوْ كَالَّذِي مَرَّ عَلَى قَرْيَةٍ وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّى يُحْيِي هَذِهِ اللَّهُ بَعْدَ مَوْتِهَا فَأَمَاتَهُ اللَّهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهُ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ قَالَ بَلْ لَبِثْتَ مِائَةَ عَامٍ فَانْظُرْ إِلَى طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ وَانْظُرْ إِلَى حِمَارِكَ وَلِنَجْعَلَكَ آيَةً لِلنَّاسِ وَانْظُرْ إِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْمًا فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ قَالَ أَعْلَمُ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Atau (tidakkah kamu tidak memperhatikan kisah) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah ia hancur?” Maka Allah mematikan orang itu selama seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: “Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?” Dia menjawab: “Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.” Allah berfirman: “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini selama seratus tahun lamanya. Lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah, dan lihatlah kepada keledaimu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata: “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

5. Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menyembelih burung.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah seorang yang sangat yakin akan kekuasaan Allah dalam menghidupkan kembali makhluk yang telah mati. Akan tetapi muncul di dalam hatinya suatu keinginan untuk dapat menyaksikan hal ini secara langsung dengan mata kepalanya sendiri sehingga keimanannya menjadi semakin kuat dan mantap. Oleh karena itu, beliau memohon kepada Allah agar dapat ditunjukkan kepadanya hal tersebut.

Allah subhanahu wa ta’ala mengabulkan permintaan Nabi Ibrahim. Untuk itu, Allah memerintahkan beliau untuk menangkap hidup-hidup empat ekor burung, kemudian dikumpulkan, dan setelah itu barulah dipotong-potong hingga menjadi bagian-bagian yang kecil. Kemudian setelah itu, beliau diperintahkan untuk menyebarkan potongan-potongan kecil dari keempat ekor burung tadi secara merata di beberapa buah gunung.

Setelah selesai melakukan hal tersebut, Allah ‘azza wa jalla memerintahkan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam untuk memanggil keempat burung tersebut. Kemudian tiba-tiba, beliau melihat suatu kejadian yang sangat menakjubkan, yaitu potongan-potongan burung tadi kembali bersatu dan menjadi empat ekor burung yang utuh dan sempurna seperti semula dan semuanya berkumpul kembali ke hadapan Nabi Ibrahim.

Kisah ini Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan di dalam surat Al Baqarah ayat 260:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتَى قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَى كُلِّ جَبَلٍ مِنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“(Ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Wahai Rabbku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati." Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu ?" Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku). Allah berfirman: "(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera." Ketahuilah bahwasanya Allah itu 'Aziz (Maha Perkasa) lagi Hakim (Maha Bijaksana)."

Demikianlah lima kisah yang menunjukkan kekuasaan Allah dalam menghidupkan kembali makhluk yang telah mati. Semoga dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. Amin.

19 Jan 2014

Etika Makan dan Minum dalam Islam




Ditulis Ulang dari buku Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari   
Penulis : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan 



 
 

Berupaya untuk mencari makanan yang halal. Allah Shallallaahu alaihi wa Sallam berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu”. (Al-Baqarah: 172). Yang baik disini artinya adalah yang halal.
 

Hendaklah makan dan minum yang kamu lakukan diniatkan agar bisa dapat beribadah kepada Allah, agar kamu mendapat pahala dari makan dan minummu itu.
 

Hendaknya mencuci tangan sebelum makan jika tangan kamu kotor, dan begitu juga setelah makan untuk menghilangkan bekas makanan yang ada di tanganmu.
 

Hendaklah kamu puas dan rela dengan makanan dan minuman yang ada, dan jangan sekali-kali mencelanya. Abu Hurairah Radhiallaahu anhu di dalam haditsnya menuturkan: “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam sama sekali tidak pernah mencela makanan. Apabila suka sesuatu ia makan dan jika tidak, maka ia tinggalkan”. (Muttafaq’alaih).
 

Hendaknya jangan makan sambil bersandar atau dalam keadaan menyungkur. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda; “Aku tidak makan sedangkan aku menyandar”. (HR. al-Bukhari). Dan di dalam haditsnya, Ibnu Umar Radhiallaahu anhu menuturkan: “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah melarang dua tempat makan, yaitu duduk di meja tempat minum khamar dan makan sambil menyungkur”. (HR. Abu Daud, dishahihkan oleh Al-Albani).
 

Tidak makan dan minum dengan menggunakan bejana terbuat dari emas dan perak. Di dalam hadits Hudzaifah  dinyatakan di antaranya bahwa Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: “... dan janganlah kamu minum dengan menggunakan bejana terbuat dari emas dan perak, dan jangan pula kamu makan dengan piring yang terbuat darinya, karena keduanya untuk mereka (orang kafir) di dunia dan untuk kita di akhirat kelak”. (Muttafaq’alaih).
 

Hendaknya memulai makanan dan minuman dengan membaca Bismillah dan diakhiri dengan Alhamdulillah. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seorang diantara kamu makan, hendaklah menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta'ala dan jika lupa menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta'ala pada awalnya maka hendaknya mengatakan : Bismillahi awwalihi wa akhirihi”. (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani). Adapun meng-akhirinya dengan Hamdalah, karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah sangat meridhai seorang hamba yang apabila telah makan suatu makanan ia memuji-Nya dan apabila minum minuman ia pun memuji-Nya”. (HR. Muslim).
 

Hendaknya makan dengan tangan kanan dan dimulai dari yang ada di depanmu. Rasulllah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda Kepada Umar bin Salamah: “Wahai anak, sebutlah nama Allah dan makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah apa yang di depanmu. (Muttafaq’alaih).
 

Disunnatkan makan dengan tiga jari dan menjilati  jari-jari itu sesudahnya. Diriwayatkan dari Ka`ab bin Malik dari ayahnya, ia menuturkan: “Adalah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam makan dengan tiga jari dan ia menjilatinya sebelum mengelapnya”. (HR. Muslim).
 

Disunnatkan mengambil makanan yang terjatuh dan membuang bagian yang kotor darinya lalu memakannya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila suapan makan seorang kamu jatuh hendaklah ia mengambilnya dan membuang bagian yang kotor, lalu makanlah ia dan jangan membiarkannya untuk syetan”. (HR. Muslim).
 

Tidak meniup makan yang masih panas atau bernafas di saat minum. Hadits Ibnu Abbas menuturkan “Bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam melarang bernafas pada bejana minuman atau meniupnya”. (HR. At-Turmudzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).
 

Tidak berlebih-lebihan di dalam makan dan minum. Karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Tiada tempat yang yang lebih buruk yang dipenuhi oleh seseorang daripada perutnya, cukuplah bagi seseorang beberapa suap saja untuk menegakkan tulang punggungnya; jikapun terpaksa, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minu-mannya dan sepertiga lagi untuk bernafas”. (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani).
 

Hendaknya pemilik makanan (tuan rumah) tidak melihat ke muka orang-orang yang sedang makan, namun seharusnya ia menundukkan pandangan matanya, karena hal tersebut dapat menyakiti perasaan mereka dan membuat mereka menjadi malu.
 

Hendaknya kamu tidak memulai makan atau minum sedangkan di dalam majlis ada orang yang lebih berhak memulai, baik kerena ia lebih tua atau mempunyai kedudukan, karena hal tersebut bertentangan dengan etika.
 

Jangan sekali-kali kamu melakukan perbuatan yang orang lain bisa merasa jijik, seperti mengirapkan tangan di bejana, atau kamu mendekatkan kepalamu kepada tempat makanan di saat makan, atau berbicara dengan nada-nada yang mengandung makna kotor dan menjijik-kan.
 

Jangan minum langsung dari bibir bejana, berdasarkan hadits Ibnu Abbas beliau berkata, “Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam melarang minum dari bibir bejana wadah air.” (HR. Al Bukhari)
 

Disunnatkan minum sambil duduk, kecuali jika udzur, karena di dalam hadits Anas disebutkan “Bahwa sesungguhnya Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam melarang minum sambil berdiri”. (HR. Muslim).

Etika dalam Membaca Al Quran

 Ditulis Ulang dari buku Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari 
 Penulis : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan

Sebaiknya orang yang membaca Al-Qur'an dalam keadaan sudah berwudhu, suci pakaiannya, badannya dan tempatnya serta telah bergosok gigi.
 
Hendaknya memilih tempat yang tenang dan waktunya pun pas, karena hal tersebut lebih dapat konsentrasi dan jiwa lebih tenang.
 
Hendaknya memulai tilawah dengan ta`awwudz, kemu-dian basmalah pada setiap awal surah selain selain surah At-Taubah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya: "Apabila kamu akan mem-baca al-Qur'an, maka memohon perlindungan-lah kamu kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk". (An-Nahl: 98).
 
Hendaknya selalu memperhatikan hukum-hukum tajwid dan membunyikan huruf sesuai dengan makhrajnya serta membacanya dengan tartil (perlahan-lahan). Allah  berfirman yang Subhanahu wa Ta'ala artinya: "Dan Bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan". (Al-Muzzammil: 4).
 
Disunnatkan memanjangkan bacaan dan memperindah suara di saat membacanya. Anas bin Malik Radhiallaahu anhu pernah ditanya: Bagaimana bacaan Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam (terhadap Al-Qur'an? Anas menjawab: "Bacaannya panjang (mad), kemudian Nabi membaca "Bismillahirrahmanirrahim" sambil memanjangkan Bismillahi, dan memanjangkan bacaan ar-rahmani dan memanjangkan bacaan ar-rahim". (HR. Al-Bukhari). Dan Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam juga bersabda: "Hiasilah suara kalian dengan Al-Qur'an". (HR. Abu Daud, dan dishahih-kan oleh Al-Albani).
 
Hendaknya membaca sambil merenungkan dan menghayati makna yang terkandung pada ayat-ayat yang dibaca, berinteraksi dengannya, sambil memohon surga kepada Allah bila terbaca ayat-ayat surga, dan berlindung kepada Allah dari neraka bila terbaca ayat-ayat neraka. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya: "Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran." (Shad: 29). Dan di dalam hadits Hudzaifah ia menuturkan: "......Apabila Nabi terbaca ayat yang mengandung makna bertasbih (kepada Allah) beliau bertasbih, dan apabila terbaca ayat yang mengandung do`a, maka beliau berdo`a, dan apabila terbaca ayat yang bermakna meminta perlindungan (kepada Allah) beliau memohon perlindungan". (HR. Muslim). Allah berfirman yang artinya:
 
Hendaknya mendengarkan bacaan Al-Qur'an dengan baik dan diam, tidak berbicara. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya: "Dan apabila Al-Qur'an dibacakan, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu men-dapat rahmat". (Al-A`raf: 204).
 
Hendaklah selalu menjaga al-Qur'an dan tekun membacanya dan mempelajarinya (bertadarus) hingga tidak lupa. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: "Peliharalah Al-Qur'an baik-baik, karena demi Tuhan yang diriku berada di tangan-Nya, ia benar-benar lebih liar (mudah lepas) dari pada unta yang terikat di tali kendalinya". (HR. Al-Bukhari).
 
Hendaknya tidak menyentuh Al-Qur'an kecuali dalam keadaan suci. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman yang artinya: "Tidak akan menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan". (Al-Waqi`ah: 79).
 
Boleh bagi wanita haid dan nifas membaca al-Qur'an dengan tidak menyentuh mushafnya menurut salah satu pendapat ulama yang lebih kuat, karena tidak ada hadits shahih dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam yang melarang hal tersebut.
 
Disunnatkan menyaringkan bacaan Al-Qur'an selagi tidak ada unsur yang negatif, seperti riya atau yang serupa dengannya, atau dapat mengganggu orang yang sedang shalat, atau orang lain yang juga membaca Al-Qur'an.
 
Termasuk sunnah adalah berhenti membaca bila sudah ngantuk, karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: "?pabila salah seorang kamu bangun di malam hari, lalu lisannya merasa sulit untuk membaca Al-Qur'an hingga tidak menyadari apa yang ia baca, maka hendaknya ia berbaring (tidur)". (HR. Muslim).

Etika Berbicara dalam Islam


Ditulis Ulang dari buku Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari  
Penulis : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan 




Hendaknya pembicaran selalu di dalam kebaikan. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya:
"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia". (An-Nisa: 114).
 
hendaknya pembicaran dengan suara yang dapat dide-ngar, tidak terlalu keras dan tidak pula terlalu rendah, ungkapannya jelas dapat difahami oleh semua orang dan tidak dibuat-buat atau dipaksa-paksakan.
 
Jangan membicarakan sesuatu yang tidak berguna bagimu. Hadits Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam menyatakan: "Termasuk kebaikan islamnya seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna". (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
 
Janganlah kamu membicarakan semua apa yang kamu dengar. Abu Hurairah Radhiallaahu 'anhu di dalam hadisnya menuturkan : Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam telah bersabda: "Cukuplah menjadi suatu dosa bagi seseorang yaitu apabila ia membicarakan semua apa yang telah ia dengar".(HR. Muslim)
 
Menghindari perdebatan dan saling membantah, sekali-pun kamu berada di fihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Aku adalah penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari bertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar; dan (penjamin) istana di tengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda". (HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani).
  
Tenang dalam berbicara dan tidak tergesa-gesa. Aisyah Radhiallaahu 'anha. telah menuturkan: "Sesungguhnya Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam apabila membicarakan suatu pembicaraan, sekiranya ada orang yang menghitungnya, niscaya ia dapat menghitungnya". (Mutta-faq'alaih).
 
Menghindari perkataan jorok (keji). Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Seorang mu'min itu pencela atau pengutuk atau keji pembicaraannya". (HR. Al-Bukhari di dalam Al-Adab Mufrad, dan dishahihkan oleh Al-Albani).
 
Menghindari sikap memaksakan diri dan banyak bicara di dalam berbicara. Di dalam hadits Jabir Radhiallaahu 'anhu disebutkan: "Dan sesungguhnya manusia yang paling aku benci dan yang paling jauh dariku di hari Kiamat kelak adalah orang yang banyak bicara, orang yang berpura-pura fasih dan orang-orang yang mutafaihiqun". Para shahabat bertanya: Wahai Rasulllah, apa arti mutafaihiqun? Nabi menjawab: "Orang-orang yang sombong". (HR. At-Turmudzi, dinilai hasan oleh Al-Albani).
 
Menghindari perbuatan menggunjing (ghibah) dan mengadu domba. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya: "Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain".(Al-Hujurat: 12).
 
Mendengarkan pembicaraan orang lain dengan baik dan tidak memotongnya, juga tidak menampakkan bahwa kamu mengetahui apa yang dibicarakannya, tidak menganggap rendah pendapatnya atau mendustakannya.
 
Jangan memonopoli dalam berbicara, tetapi berikanlah kesempatan kepada orang lain untuk berbicara.
 
Menghindari perkataan kasar, keras dan ucapan yang menyakitkan perasaan dan tidak mencari-cari kesalahan pembicaraan orang lain dan kekeliruannya, karena hal tersebut dapat mengundang kebencian, permusuhan dan pertentangan.
 
Menghindari sikap mengejek, memperolok-olok dan memandang rendah orang yang berbicara. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan), dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan). (Al-Hujurat: 11).

18 Jan 2014

Mewaspadai Langkah Syaitan

Disampaiakan Oleh  
Ahada Ramadhana
Teknik Kimia/ FTI-UII/ 2010
 

Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala (Q.S. Fâthir [35]: 6).

Kita tentu telah sama-sama mengetahui makhluk Allâh yang terkenal karena pembangkangannya saat diperintah untuk sujud kepada Nabi Adam a.s. dan berkomitmen untuk senantiasa mengganggu serta menjerumuskan anak cucu Adam kepada kesesatan yang mana muaranya adalah berujung pada al-Nâr. Mereka itu adalah setan yang merupakan keturunan dari iblis.
Setan merupakan golongan yang senantiasa menggoda manusia menjauh dari jalan Allâh. Mereka itu yang selalu senang ketika manusia taklid (patuh) pada jalan mereka yang sesat. Mereka punya seribu cara menggaet manusia untuk dijerumuskan dalam dosa. Jika tidak mengajak bicara dusta, maka mereka akan mengajak berkata kotor. Jika tidak membuat malas, mereka coba melalaikan. Jika tak mengarahkan ber-su’uzhan (berburuk sangka) maka mereka coba menciptakan hasad (dengki) di dalam hati kita. Singkatnya, segala upaya dan cara akan digunakan demi merekrut massa sebanyak-banyaknya dari golongan kita (manusia) untuk menjadi teman mereka di neraka kelak.
Kata setan berasal dari kata syaithana artinya menjauh. Dinamai setan karena jauhnya dia dari kebenaran. (Shabuni, 1977, hal. 17). Setan merupakan keturunan (anak cucu) iblis, yaitu yang pertama kali membangkang ketika diperintah sujud kepada Nabi Adam a.s. Sementara itu Yunahar Ilyas dalam bukunya Kuliah Aqidah Islam menyatakan, iblis itulah nenek moyang seluruh setan, yang seluruhnya selalu durhaka kepada Allâh SWT dan bertekad untuk menggoda umat manusia (anak cucu Adam) mengikuti langkah mereka menentang perintah Allâh SWT.
Manusia yang mukallaf (diperintahkan untuk mengerjakan syari’at agama) adalah objek yang menarik bagi setan. Manusia yang sudah baligh dan mumayiz (sudah bisa membedakan baik dan buruk) adalah sasaran empuk mereka. Bisa menyebarkan kesesatan di antara manusia menjadi cita-cita akbar. Merebut hamba-hamba dari jalan-Nya untuk dijadikan budak (pengikut) mereka adalah dambaan bagi mereka.
Manusia yang menjadi pengikut setan ini disebut golongan setan (hizbu al-syaithan). Yaitu mereka yang sadar ataupun tidak sadar telah mengikuti kebobrokan perbuatan-perbuatan setan. Cirinya ialah pertama, mereka dikuasai setan, kedua, mereka lupa kepada Allâh SWT. Seperti yang telah Allâh jelaskan dalam surah al-Mujâdalah [58]: 19, Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allâh, mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi.
Dalam menjalankan ekspansinya untuk menyesatkan manusia (tadhlil), setidaknya ada delapan cara yang digencarkan oleh setan untuk dapat menguasai manusia. Cara-cara itu ialah [1] Waswasah (bisikan), [2] Nis-yan (membuat lupa), [3] Tamanni (angan-angan), [4] Tazyin (memandang indah maksiat), [5] Wa’dun (janji palsu), [6] Kaidun (tipu daya), [7] shaddun (menghalangi ke jalan Allâh), [8] ‘Adawah (biang permusuhan).

Waswasah (Bisikan)
Setan membisikkan manusia ke jalan kesesatan melalui berbagai perihal. Ketika berdiri, duduk, berjalan, bekerja, dan di setiap aktivitas. Setan tak pernah merasa lelah dan menyerah membelokkan jalan manusia. Ketika bekerja setan akan beraksi dengan menawarkan kesenangan dunia. Bisikan-bisikannya tajam nan menggiurkan, tak lain seputar manisnya dunia. Mensugesti manusia bahwa akhirat itu belum pasti adanya, sehingga mengajak manusia mengutamakan dunia dari pada akhirat. Membuyarkan niat ikhlas manusia untuk beramal ibadah dalam rangka mengharap ridha-Nya.

Nis-yan (Membuat lupa)
Setan melupakan manusia dari mengingat Allâh dalam setiap aktivitas kita. Orientasi kerja yang seharusnya untuk mengharap ridha-Nya dilenyapkan dari pikiran kita dan dibelokkan menjadi orientasi pemenuhan kebutuhan keduniaan semata. Berbagai komitmen menjalankan syari’at (jujur, bersungguh-sungguh, disiplin, dsb) perlahan-lahan dihapus dari memori kita. Sehingga pelan-pelan kita mulai menabrak batas-batas syari’at.
Allâh SWT berfirman, “Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu sesudah teringat (akan larangan itu)” (Q.S. al-An’âm [6]: 68)

Tamani (Angan-angan)
Setan merekayasa sehingga pikiran kita penuh khayalan dan angan-angan kosong. Dalam keadaan apapun setan akan membuyarkan konsentrasi. Apabila setan sudah berhasil membuat kita lepas konsentrasi, maka selanjutnya setan membuat kita betah berkhayal. Hal ini telah ditegaskan Allâh SWT dalam Q.S al-Nisâ’, “Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka …” (Q.S.al-Nisâ’ [4]: 19). Dan dikuatkan lagi pada ayat selanjutnya, “Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka” (Q.S. al-Nisâ’ [4]: 19)

Tazyin (Memandang indah maksiat)
Dengan segala kelihaiannya, berbagai bentuk kemaksiatan itu baik yang kecil maupun yang besar, dikemas dengan begitu menariknya. Apa yang menjadi tawaran setan seolah hal yang mampu membuat penasaran sehingga tidak sedikit manusia yang tergoda. Setan pandai memutar keadaan, mana yang baik di mata Allâh dijadikan menjemukan di mata manusia. Dan apa-apa yang buruk dijadikan menarik bagi manusia. Iblis berkata, “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya” (Q.S. al-Hijr [15]: 39)

Wa’dun (Janji palsu)
Tak ada yang ditawarkan setan selain janji palsu yang pada saat di akhirat ia tak akan mau menepatinya. Setan akan mengakui bahwa apa yang telah dijanjikannya adalah janji palsu, sekadar agar manusia mau mengikuti jalannya. Simaklah ayat berikut, “Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, “Sesungguhnya Allâh telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allâh) sejak dahulu.” Sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu mendapat siksaan yang pedih” (Q.S. Ibrahim [14]: 22)

Kaidun (Tipu daya)
Karena sudah tau bahwa jalannya menyekutukan Allâh adalah sesat maka setan yakin pasti manusia tak akan ada yang mau mengikutinya. Oleh karena itu, dengan bualan manisnya, dalam merekrut pengikutnya setan menggunakan jalan menipu dan memperdaya. Bagi orang yang masih lemah imannya tentu akan dengan mudah ditipu dan diperdaya olehnya. Namun bagi yang telah memantapkan iman dan mengokohkan aqidah, maka perisai ketauhidan akan menjaganya dari tipuan setan. “Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya” (Q.S. al-Nahl [16]: 99)

Shaddun (Menghalangi ke jalan Allâh)
Ketika kita berniat melakukan kebaikan, mereka akan selalu mengusik sehingga tak jarang kita dibuat ragu memulai pekerjaan. Kita dihalang-halangi sehingga kita berpikir ulang untuk melakukan suatu kebajikan. Setan membuat kita berpikir “nanti dulu” atau “sebentar lagi”. Mereka mengulur-ulur waktu agar kita tak segera memulai aktivitas. Mereka itu akan menjadi penghambat atau bahkan pembatal kita dalam berbuat kebaikan. Gangguan mereka akan terus ada hingga kita mengurungkan niat bekerja atau menanggalkan pekerjaan yang sedang kita lakukan.

‘Adawah (Biang permusuhan)
Sudah menjadi sunnatullâh bahwa di antara manusia itu pasti ada perbedaan. Mulai dari hal kecil sampai hal yang besar dan rumit. Dalam interaksi itu, hendaknya kita bersikap bijak, tetap tenang, dan saling menghargai. Sebab sedikit kesalahan berkomunikasi akan rawan sekali menimbulkan permusuhan di antara sesama manusia. “Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu…” (Q.S. al-Mâ’idah [5]: 91)
Demikianlah berbagai jalan yang ditempuh setan dalam menyesatkan anak cucu Adam. Ibnu al-Qayyim rahimahullâh menyatakan bahwa jihad paling wajib ialah jihad melawan jiwa, jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan setan, dan jihad melawan dunia. Siapa berjihad melawan keempat hal itu karena Allâh, Dia memberinya petunjuk kepada jalan-jalan keridhaan-Nya, yang membawanya ke surga-Nya. Sebaliknya, siapa tidak berjihad melawan keempat hal itu, ia gagal mendapatkan petunjuk dan kadar kegagalannya tergantung kepada sejauh mana ia meninggalkan jihad. Semoga kita selalu mampu untuk saling menasihati agar sama-sama terhindar dari ajakan setan. Amîn.[]

2 Des 2013

Etika Berpakaian dan Berhias

Oleh : @MuslimBerilmu



 Sebagai Seorang muslim kita harus memiliki tatanan hidup yang sesuai dengan sunnah sunnah yang telah diajarkan Nabi SAW. Adab Adab dan etika inilah yang jarang sekali di perhatikan oleh banyak orang islam.

So sebagai generasi rabbani yuk mulai sekarang berbenah mulai dari adab adab ringan sehari hari. dibawah ini adalah kutipan tentang etika dan sunah sunah dalam berpakaian serta berhias.

Disunnatkan memakai pakaian baru, bagus dan bersih.
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam telah bersabda kepada salah seorang shahabatnya di saat beliau melihatnya mengenakan pakaian jelek : "Apabila Allah mengaruniakan kepadamu harta, maka tampakkanlah bekas ni`mat dan kemurahan-Nya itu pada dirimu. (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani).
 
Pakaian harus menutup aurat, yaitu longgar tidak membentuk lekuk tubuh dan tebal tidak memperlihatkan apa yang ada di baliknya.
 
Pakaian laki-laki tidak boleh menyerupai pakaian perempuan atau sebaliknya. Karena hadits yang bersum-ber dari Ibnu Abbas Radhiallaahu 'anhu ia menuturkan: "Rasulullah melaknat (mengutuk) kaum laki-laki yang menyerupai kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupai kaum pria." (HR. Al-Bukhari).
Tasyabbuh atau penyerupaan itu bisa dalam bentuk pakaian ataupun lainnya.
 
Pakaian tidak merupakan pakaian show (untuk ketenaran), karena Rasulullah Radhiallaahu 'anhu telah bersabda: "Barang siapa yang mengenakan pakaian ketenaran di dunia niscaya Allah akan mengenakan padanya pakaian kehinaan di hari Kiamat." ( HR. Ahmad, dan dinilai hasan oleh Al-Albani).
 
Pakaian tidak boleh ada gambar makhluk yang bernyawa atau gambar salib, karena hadits yang bersumber dari Aisyah Radhiallaahu 'anha menyatakan bahwasanya beliau berkata: "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam tidak pernah membiarkan pakaian yang ada gambar salibnya melainkan Nabi menghapusnya". (HR. Al-Bukhari dan Ahmad).
 
Laki-laki tidak boleh memakai emas dan kain sutera kecuali dalam keadaan terpaksa. Karena hadits yang bersumber dari Ali Radhiallaahu 'anhu mengatakan: "Sesungguhnya Nabi Allah Subhaanahu wa Ta'ala pernah membawa kain sutera di tangan kanannya dan emas di tangan kirinya, lalu beliau bersabda: Sesungguhnya dua jenis benda ini haram bagi kaum lelaki dariumatku". (HR. Abu Daud dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

 
Pakaian laki-laki tidak boleh panjang melebihi kedua mata kaki. Karena Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam telah bersabda : "Apa yang berada di bawah kedua mata kaki dari kain itu di dalam neraka" (HR. Al-Bukhari). Adapun perempuan, maka seharusnya pakaiannya menu-tup seluruh badannya, termasuk kedua kakinya. Adalah haram hukumnya orang yang menyeret (meng-gusur) pakaiannya karena sombong dan bangga diri. Sebab ada hadits yang menyatakan : "Allah tidak akan memperhatikan di hari Kiamat kelak kepada orang yang menyeret kainnya karena sombong". (Muttafaq'alaih).
 
Disunnatkan mendahulukan bagian yang kanan di dalam berpakaian atau lainnya. Aisyah Radhiallaahu 'anha di dalam haditsnya berkata: "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam suka bertayammun (memulai dengan yang kanan) di dalam segala perihalnya, ketika memakai sandal, menyisir rambut dan bersuci'. (Muttafaq'-alaih).
 
Disunnatkan kepada orang yang mengenakan pakaian baru membaca :
"Segala puji bagi Allah yang telah menutupi aku dengan pakaian ini dan mengaruniakannya kepada-ku tanpa daya dan kekuatan dariku". (HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani).
 
Disunnatkan memakai pakaian berwarna putih, katrena hadits mengatakan: "Pakaialah yang berwarna putih dari pakaianmu, karena yang putih itu adalah yang terbaik dari pakaian kamu ..." (HR. Ahmad dan dinilah shahih oleh Albani).
 
Disunnatkan menggunakan Parfum bagi laki-laki dan perempuan, kecuali bila keduanya dalam keadaan berihram untuk haji ataupun umrah, atau jika perempuan itu sedang berihdad (berkabung) atas kematian suaminya, atau jika ia berada di suatu tempat yang ada laki-laki asing (bukan mahramnya), karena larangannya shahih.

Haram bagi perempuan memasang tato, menipiskan bulu alis, memotong gigi supaya cantik dan menyambung rambut (bersanggul). Karena Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam di dalam haditsnya mengatakan: "Allah melaknat (mengutuk) wa-nita pemasang tato dan yang minta ditatoi, wanita yang menipiskan bulu alisnya dan yang meminta ditipiskan dan wanita yang meruncingkan giginya supaya kelihatan cantik, (mereka) mengubah ciptaan Allah". Dan di dalam riwayat Imam Al-Bukhari disebutkan: "Allah melaknat wanita yang menyambung rambutnya". (Muttafaq'alaih).


Gimana?? Udah baca kan..
Ayo sekarang kita langsung praktekkan .. do it now...
Bismillah mulai berbenah dari hal kecil hingga kita semua dapat menjadi cendekia rabbani :)

(red/azz/book/ent)

6 Agu 2012

Meraih Energi Dahsyat Ramadhan

-kopipasteh-
wawasanislam.com/
Ramadhan merupakan bulan yang sangat agung, banyak energi yang bisa kita dapatkan darinya. Karena itu orang yang mengetahui tentang keutamaan dan keagungan Ramadhan akan menginginkan kalau setiap bulan itu dijadikan oleh Allah sebagai bulan Ramadhan.
Namun harus kita sadari bahwa tidak mungkin setiap bulan Allah jadikan sebagai bulan Ramadhan. Karena itu menjadi kewajiban kita bersama untuk mensyukuri kedatangan Ramadhan tahun dengan cara mengisinya dengan berbagai aktivitas tarbiyyah (pendidikan) sehingga dapat kita raih peningkatan taqwa kepada Allah Swt. Target peningkatan taqwa ini memang disebutkan dalam Al-Quran yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS 2:183).
Oleh karena itu apabila seseorang tidak meningkat ketaqwaannya kepada Allah Swt melalui ibadah Ramadhan, maka dia tidak mendapatkan apa-apa dari Allah kecuali hanya menahan lapar dan haus saja, padahal Allah tidak membutuhkan lapar dan hausnya seseorang, tapi yang Allah inginkan adalah akhlak yang mulia, Rasulullah Saw bersabda : “Barangsiapa yang (puasa tapi) tidak dapat meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan lapar dan hausnya.” (HR. Bukhari).
Dengan demikian hakikat ibadah Ramadhan adalah melatih diri agar dapat meningkat ketaqwaan kita kepada Allah sehingga ada yang harus kita perbaiki dari ibadah Ramadhan itu.
SISI-SISI PERBAIKAN.
Sekurang-kurangnya, ada tiga sisi yang harus kita perbaiki dari ibadah Ramadhan kita dari tahun ke tahun.
Pertama, memperbaiki keislaman diri kita agar semakin bertaqwa dan selalu merasa diawasi oleh Allah Swt. Perasaan diawasi oleh Allah menjadi begitu penting dalam kehidupan seorang muslim karena dengan demikian dia tidak berani menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan Allah, hal ini karena setiap perbuatan manusia ada pertanggung-jawabannya dihadapan Allah, kebaikan dan keburukan yang dilakukannya untuk dirinya sendiri. Allah berfirman yang artinya : “Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al kitab (Al-Quran) untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk maka petunjuk itu untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian dirinya sendiri, dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka.” (QS 39:41).
Disamping itu pada ayat lain Allah juga berfirman yang artinya :  “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS 17:36).
Puasa melatih kita untuk selalu dalam pengawasan Allah, menghargai waktu, disiplin dan sebagainya, sehingga dari ibadah ini insya Allah akan kita capai perbaikan keislaman diri ke arah yang lebih baik.
Kedua, memperbaiki keislaman keluarga, ini bisa kita lakukan dengan lebih menkondisikan suasana pengamalan ajaran Islam dalam keluarga seperti tadarus dan tadabbur (mengkaji) Al-Quran, sahur bersama, buka puasa bersama, tarawih bersama yang disertai ceramah dan memperkokoh hubungan dengan sesama anggota keluarga karena suasana kumpul bersama keluarga di rumah pada bulan Ramadhan relatif lebih banyak sehingga tercipta keakraban dan keharmonisan hubungan antar keluarga yang berdampak sangat positif dalam upaya memperbaiki keislaman anggota keluarga.
Ramadhan boleh dikata sebagai momentum yang sangat baik untuk memperbaiki keislaman anggota keluarga. Misalnya anggota keluarga yang belum bisa membaca Al-Quran bisa kita kontrol dan kita tumbuhkan atau kita tingkatkan kemampuannya membaca Al-Quran, begitu juga dengan pemahaman dan pengamalannya. Memperbaiki keislaman keluarga merupakan tanggung jawab kita bersama, khususnya bagi seorang suami atau bapak, maka seorang bapak harus memperbaiki keislaman dirinya terlebih dahulu baru memperbaiki keislaman keluarganua. Keluarga harus kita islamisasikan karena azab Allah sangat pedih bagi siapa saja yang tidak bertaqwa kepada-Nya, Allah berfirman yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.’ (QS 66:6)
Ketiga, memperbaiki keislaman masyarakat, hal ini karena terwujudnya masyarakat yang berkepribadian Islami merupakan sesuatu yang sangat penting. Dengan terwujudnya masyarakat Islami, ketertiban, kedamaian dan ketenangan hidup akan sama-sama kita rasakan, bahkan hidup jadi terarah pada nilai-nilai kebenaran dan dapat kita kikis habis tindakan-tindakan yang maksiat atau paling tidak sangat kecil peluang manusia untuk melakukan kemaksiatan. Dari sini masyarakat akan memiliki harapan yang lebih besar terhadap masa depan yang cerah, tapi bila masyarakat tidak Islami, maka masa depan yang bahagia akan terasa suram.
Ibadah Ramadhan khususnyan puasa menumbuhkan semangat pada kita untuk melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar sehingga ibadah puasa membuat kita enggan untuk melakukan kemaksiatan dan kalau ada orang yang melakukan kemaksiatanpun kita tidak segan-segan untuk mencegah, melarang atau mengingatkannya agar hal yang buruk itu tidak dilakukannya.
Karena itu terlepas dari soal teknis yang kurang tepat, nurani kita memang disegarkan kembali untuk membenci kemaksiatan sehingga tayangan-tayangan televisi relatif lebih bernuansa islami, tidak hanya dengan ceramah-ceramahnya, tapi juga film, sinetron, lagu-lagu hingga iklan dan pesan-pesan lainnya, radio juga tidak mau kalau dalam soal kebaikan, semuanya lebih selektif. Disamping itu pemerintah juga membatasi jam buka bagi tempat-tempat kemaksiatan seperti panti pijat, bar dan diskotek, tempat pelacuran dan sejenisnya.  Selanjutnya yang juga membuat kita bahagia adalah gairah keislaman pada masyarakat yang menonjol tidak hanya di kampung-kampung, tapi juga di jantung perkotaan, pusat-pusat bisnis dan perkantoran, semuanya menunjukkan suasama yang lain dari biasanya sehingga tidak terasa kalau Ramadhan itu sangat memberikan perubahan kearah yang lebih Islami.
Hal lain yang juga amat mengesankan adalah tingkat pemakmuran masjid dan mushalla yang sedemikian terasa sehingga shalat berjamaah yang lima waktu diikuti oleh kaum muslimin yang lebih banyak, pesan-pesan keislaman lebih banyak disampaikan, aktivitas masjid lebih bervariasi, kekompakan pengurus masjid dan remajanya lebih harmonis yang kesemua itu membuat masjid menjadi lebih makmur sehingga keislaman masyaralat kita relatif lebih nampak dan terasa.
Namun yang harus lebih kita sadari adalah bahwa Ibadah Ramadhan adalah ibadah yang mendidik kita untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Swt, ini berarti suasana keislaman yang terjadi di masyarakat tidak boleh berakhir bersamaan dengan berakhirnya Ramadhan, karena itu semestinya sesudah Ramadhan ada peningkatan yang menonjol dari sebelum Ramadhan dalam hal-hal yang baik dan benar. Televisi harus lebih selektif dalam menayangkan programnya, kita berharap agar televisi tidak hanya berorientasi pada bisnis, apalagi sebenarnya jangan dikira program tayangan yang baik dan mendidik tidak bisa mendatangkan iklan, begitu juga dengan radio dalam memperdengarkan siarannya. Selanjutnya pihak pemerintah semestinya tidak memberi peluang dan kesempatan kepada mereka yang hendak melakukan kemaksiatan semacam minuman keras, judi dan perzinahan, karenanya di negeri kita yang religius ini, sebenarnya tidak pantas adanya bar dan diskotek, panti pijat, tempat pelacuran dan sejenisnya. Kalau tempat-tempat semacam itu menghasilkan retribusi atau pajak, maka sebenarnya masih banyak peluang retribusi dari sumber yang baik yang bisa diperoleh, apalagi retribusi tempat-tempat seperti itu jumlahnya tidak seberapa sementara tingkat kerugian akibat rusaknya masa depan generasi kita tidak dapat kita ukur besarnya.
Oleh karena itu menjadi tantangan kita bersama untuk lebih memakmurkan masjid-masjid kita yang harus berfungsi sebagai pusat pembinaan umat pada pasca Ramadhan ini. Pengurus masjid sangat dituntut menjalankan amanah mengurus masjid, jangan dikira tak berdosa bila tidak aktif dalam kepengurusan masjid sementara amanah itu sudah kita terima. Jamaah masjid juga sangat dituntut untuk lebih meningkatkan partisipasi dalam beragam aktivitas masjid dan kerjasama yang lebih solid antara pengurus masjid dengan jamaahnya merupakan sesuatu yang harus ditingkatkan. Kita berharap masjid-masjid kita solid kepengurusannya, tinggi partisipasi jamaahnya, cukup pasilitas dan dananya, bervariasi program-programnya dan menunjukkan perkembangan yang lebih baik dari waktu ke waktu.
Semoga Ramadhan tahun ini membuat kita semakin bangga sebagai seorang muslim, lalu bisa kita tunjukkan kebanggan itu dengan Islamisasi dalam berbagai bidang kehidupan kita sesudah Ramadhan berakhir.
Wallahu A’lam bish Showab.